Lombang Beach

Melintasi “Belahan Surga” di Pulau Madura

By: redaksi

Pulau Madura dibagi menjadi 4 Kabupaten yang berjajar mulai dari barat ke timur. Jika diurut mulai dari yang paling dekat dengan Surabaya adalah Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan, dan Kabupaten Sumenep. Rencananya kami akan melintasi Madura mulai dari Bangkalan hingga Sumenep. Berangkat melalui jalan lingkar utara, dan pulang melalui jalan lingkar selatan. Pas memutari Madura 360 derajat.

Peta Pulau Madura

Peta Pulau Madura

Berdua dengan Indra, kami memacu motor melalui Jembatan Suramadu hingga akhirnya tiba di Bangkalan, yaitu Kabupaten di Pulau Madura yang terdekat dengan Surabaya. Di Kabupaten inilah terdapat banyak warung bebek khas Madura yang terkenal, seperti Bebek Sinjay, Bebek Songkem, dan lain-lain. Tapi Bangkalan bukanlah tujuan utama. Tak begitu banyak tempat menarik di sini. Kami memacu motor melewati Bangkalan dan melintasi jalan lingkar utara hingga tiba di Sampang, Kabupaten yang bersebelahan dengan Bangkalan.

Air Terjun Toroan lah yang menjadi tujuan kami di Sampang. Tak banyak informasi mengenai dimana tepatnya keberadaan air terjun ini. Pun tak ada papan petunjuk yang bisa memandu. Namun berbekal petunjuk dari orang-orang yang kami temui sepanjang jalan, sampailah kami di Air Terjun Toroan. Sebelumnya kami tak punya ekspektasi berlebihan akan air terjun ini. Tapi setelah melihat secara langsung, ternyata Air Terjun Toroan kece lho. Keunikannya adalah letaknya yang menghadap laut, bahkan curahan airnya langsung jatuh ke laut!

Air Terjun Toroan

Air Terjun Toroan

Hari bergulir semakin siang. Sebelum hari gelap kami sudah harus tiba di Sumenep. Maklum masih rawan kriminalitas di Madura. Ditambah dengan watak orang Madura yang keras, dan budaya carok (berkelahi menggunakan celurit) yang masih ada di sebagian masyarakat Madura khususnya di daerah Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Sungguh tidak bijaksana jika bepergian di malam hari. Kami pun cepat-cepat melajukan motor ke arah Sumenep.

Di Sumenep, kami janjian dengan seorang teman di Alun-Alun Kota Sumenep, atau disebut juga Taman Adipura. Rupanya Taman  Adipura merupakan salah satu tempat “rekreasi” warga Sumenep. Di malam hari, taman ini ramai dengan penjual makanan serta pasar malam. Letaknya berhadapan dengan Masjid Jamik yang menjadi salah satu landmark Sumenep. Malam itu kami habiskan dengan bercengkrama bersama beberapa teman yang adalah penduduk asli Sumenep. Hingga akhirnya kami ditawari untuk bermalam di rumah mereka. Thanks, God!

Dua hari berikutnya kami habiskan dengan menjelajah beberapa tempat menarik di Sumenep, mulai dari pantai, pulau, bukit kapur, hingga Kraton Sumenep. Bicara tentang pantai, Sumenep punya 2 pantai yang paling terkenal, yaitu Pantai Slopeng dan Pantai Lombang. Pantai Slopeng sudah sempat kami kunjungi dalam perjalanan dari Sampang ke Sumenep. Sayang pantainya kurang menarik hati. Sedangkan Pantai Lombang, cukup oke dengan hamparan pasir yang panjang dan luas, serta deretan pohon cemara udang di pinggir pantai. Ombaknya pun cukup tenang, sehingga aman-aman saja untuk berenang di pantai.

Pantai Lombang

Pantai Lombang

Kalau ingin pantai yang benar-benar masih bagus dan perawan, datanglah ke Gili Labak. Dengan menyeberang memakai kapal sewaan selama sekitar 2 jam, kita sudah bisa sampai di pulau kecil ini. Gili Labak mempunyai pantai indah dengan air laut yang biru dan  jernih. Cocok untuk aktivitas snorkeling, karena ternyata ada sisi pulau yang mempunyai pemandangan bawah laut yang cukup oke. Sebelumnya saya sudah pernah datang ke Gili Labak di tahun 2012. Ceritanya bisa dibaca di sini.

IMG_0086

Gili Labak

Tempat yang unik dan tidak banyak orang ketahui dari Sumenep adalah tambang bukit kapur yang ternyata juga bisa dijadikan objek wisata menarik. Meskipun letaknya tidak jauh dari Pantai Lombang, tapi agak susah juga untuk menemukan keberadaan bukit kapur tersebut. Selain tidak ada papan petunjuk, penduduk lokal yang kami tanyai pun rata-rata kebingungan karena masalah bahasa. Ternyata masih banyak penduduk desa di Madura yang kesusahan memahami Bahasa Indonesia, bahkan tidak bisa berbahasa Indonesia sama sekali.

Bukit Kapur yang kami datangi ini memang sebenarnya adalah pertambangan, dan bukan objek wisata. Tapi karena pemandangannya yang unik, di akhir pekan banyak orang berdatangan untuk sekedar berfoto. Mirip GWK (Garuda Wisnu Kencana) katanya. Memang tempat ini lebih cocok untuk penggemar fotografi. Ketika melongok-longok di depan tambang pun, para pekerja tambang sudah memanggil-manggil dari dalam,”Mau foto-foto ya, mbak? Ayo-ayo masuk saja ke sini.”

Bukit Kapur

Bukit Kapur

IMG_64982

Bukit Kapur

Sumenep dulunya adalah sebuah kerajaan. Hingga kini, masih banyak peninggalan kerajaan di masa lalu. Salah satunya Keraton Sumenep. Keraton merupakan kediaman resmi para Adipati atau Raja-Raja, sekaligus tempat untuk menjalankan roda pemerintahan. Meskipun kini sudah tidak dihuni lagi oleh para Raja, bangunan Keraton masih tetap terjaga. Kompleks Keraton terdiri dari beberapa massa bangunan, salah satunya adalah Taman Sare yang merupakan tempat pemandian putera-puteri Adipati. Selain sebagai objek wisata, saat ini pendopo Keraton Sumenep juga berfungsi untuk acara pemerintahan serta pagelaran seni dan budaya setempat. Sayang saya tidak dapat banyak informasi tentang Keraton ini. Si bapak guide meninggalkan kami begitu saja di tengah jalan, karena harus meng-handle rombongan lain yang lebih besar. Huh.

Koridor di Keraton Sumenep

Koridor di Keraton Sumenep

Peninggalan Kerajaan Sumenep masa lalu tidak hanya Keraton. Ada juga Asta Tinggi, yaitu kawasan pemakaman khusus petinggi kerajaan beserta keturunan dan kerabat mereka. Setiap hari makam ini selalu ramai oleh peziarah dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan kompleks pemakaman ini buka 24 jam lho. Cukup menarik mendengar petugas setempat bercerita tentang Asta Tinggi ini. Sayangnya saya pelupa kalaumengenai cerita sejarah. Sehingga sepulang dari sana, semua informasi menguap begitu saja, dan tidak bisa cerita banyak di sini. Hehehe.

Asta Tinggi

Asta Tinggi

Dalam perjalanan pulang dari Sumenep menuju Surabaya, kami sempat mampir ke Api Tak Kunjung Padam di Pamekasan. Sesampainya di sana, kami agak shock karena keadaan di tempat tersebut kotor dan tidak terawat. Titik-titik api terletak di tanah kosong yang kecil, dengan pagar yang seadanya. Di sekelilingnya banyak toko-toko suvenir yang malah mendominasi tempat tersebut. Seakan-akan api itu hanyalah pelengkap, dengan wisata belanja sebagai tujuan utamanya. Bahkan ada ibu-ibu penjual jagung bakar yang menggunakan api-api tersebut untuk membakar jagungnya. Duh. *tepok jidat*

Kami enggan berlama-lama di sana dan akhirnya melipir ke sumber api yang lebih sepi, berjarak sekitar 200 meter dari api utama. Sumber api kedua ini terletak di tengah padang rumput yang gersang. Ada belasan titik api yang terlihat menyala siang itu. Tapi, apakah benar api ini tak kunjung padam? Belum sah kalau belum dibuktikan sendiri. Iseng-iseng saya tes dengan menyiram sebotol air ke atasnya. Padam sih, tapi beberapa saat kemudian menyala lagi. Wow. Ternyata api-api ini memang benar tak kunjung padam.

Api Tak Kunjung Padam

Api Tak Kunjung Padam

Perjalanan kami melintasi Pulau Madura berakhir di hari ketiga. Menambah pengetahuan kami bahwa Madura bukan hanya Bebek Sinjay. Ternyata banyak juga tempat menarik di sana. Sayangnya kami belum sempat menonton pertunjukan Karapan Sapi karena belum musimnya. Kami juga masih menyimpan keinginan besar untuk selanjutnya mendatangi Kepulauan Kangean di Sumenep yang konon sangat potensial sebagai destinasi wisata bahari di Jawa Timur.

Ayo len-jelen bareng ka Madura!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali Atas